|
Sejumlah
lembaga dan institusi bergengsi dunia kini mulai mengantongi
nama Indonesia sebagai calon kekuatan ekonomi kuat dimasa
mendatang. Optimisme tersebut muncul ketika Morgan Stanley
mengusulkan nama Indonesia Pada BRIC. BRIC yang merujuk
pada empat negara calon kekuatan ekonomi baru dunia
pada 2020 merupakan akronim dari nama Brazil, Rusia,
India, China yang dipopulerkan oleh Goldman Sachs Group
pada 2001. BRIC memiliki total produk bruto (PDB) diperkirakan
melampaui PDB tujuh negara industri maju (G-7) pada
2027 atau mencapai US$30,2 triliun. Bahkan beberapa
pakar meyakini bahwa BRIC akan menjadi mendominasi kekuatan
perekonomian pada 2050.
Namun
demikian, BRIC dinilai belum bisa menjadi cermin potensi
kekuatan ekonomi secara global, termasuk sejumlah negara
berkembang. Sebuah istilah baru telah diakomodir oleh
Goldman Sachs, yakni Next 11 yang meliputi Indonesia,
Turki, Korea Selatan, Meksiko, Iran, Nigeria, Mesir,
Filipina, Pakistan, Vietnam dan Bangladesh. Morgan Stanley
mengusulkan nama Indonesia pada BRIC yaitu menjadi BRICI.
PDB Indonesia diperkirakan bakal mencapai US$800 miliar
dalam lima tahun mendatang. Hal tersebut yang menjadi
alasan untuk mencantumkan nama Indonesia. Kepala Badan
Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan juga
menambahkan bahwa Indonesia bukan hanya berpotensi besar
masuk kedalam BRIC, tetapi Indonesia mampu menggeser
Rusia.
Pada
Juli 2010, sebuah majalah ekonomi terkemuka (The Economist)
juga memasukan nama Indonesia sebagai calon kekuatan
ekonomi baru pada 2030 di luar BRIC. The Economist mengenalkan
akronim baru dengan sebutan CIVETS, kepanjangan dari
Colombia, Indonesia, Vietnam, Egypt, Turkey dan South
Africa. The Economist memperkirakan PDB enam negara
ini rata-rata akan tumbuh 4,5 persen per tahun selama
20 tahun ke depan. CIVETS akan melakukan percepatan
pergeseran ekonomi global ke wilayah timur dan barat.
Kini
proyeksi lembaga-lembaga internasional tersebut mulai
menggema bahkan sampai ke Indonesia. Beberapa petinggi
dan eksekutif nasional menyuarakan optimistisme tinggi
untuk hal ini. Seperti yang disuarakan oleh Wakil Direktur
Bank Mandiri Riswinandi yang menilai bahwa Indonesia
memiliki semua prasyarat untuk masuk jajaran elit BRIC.
Jadi, tidak ada alasan untuk tidak menambahkan 'I' pada
akronim BRIC untuk menjadi BRICI.
Lebih lanjut kepala Ekonomi Bank Mandiri, Mirza Adityaswara
memaparkan bahwa ada sejumlah alasan mengapa Indonesia
layak disejajarkan dengan negara BRIC. Pertama, wilayah
Indonesia tergolong luas hingga lebih dari 3 juta km2.
Kedua, potensi pasar RI besar dengan jumlah penduduk
230 juta jiwa. Ketiga, memiliki kekayaan sumber daya
alam, bahkan produsen nomor satu minyak sawit mentah,
nomor dua timah dan eksportir besar batu bara.
Keempat,
pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen per tahun. Bahkan,
RI menjadi satu dari tiga negara di dunia dengan pertumbuhan
ekonomi positif pada 2008 bersama Cina dan India. Kelima,
PDB per kapita Indonesia pada 2009 sekitar US$3.900
atau lebih baik dari India yang hanya US$2.900. Keenam,
fiskal Indonesia tergolong sehat dengan defisit hanya
1,6 persen, lebih kecil dari defisit anggaran Rusia
sebesar 6 persen, Brasil 3,3 persen, India 10 persen
dan China 2,2 persen.
Bahkan,
Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi
(OECD) memuji ekonomi RI cukup tangguh dalam menghadapi
krisis global. PDB Indonesia pada 2009 sebesar 4,6 persen
atau ketiga terbesar dalam kelompok negara G-20, setelah
China dan India. "Situasi terkini memberi peluang
unik bagi Indonesia untuk mengejar target pertumbuhan
ekonomi, serta meningkatkan taraf hidup secara berkelanjutan,"
kata Sekretaris Jenderal OECD, Angel Gurria.
Namun,
untuk mengejar impian sebagai negara berpengaruh di
bidang ekonomi ada sejumlah syaratnya. OECD menyebutkan
Indonesia harus serius menerapkan agenda reformasi,
seperti perbaikan sistem pemungutan pajak, peningkatan
efektivitas belanja negara, serta penegakan sistem hukum.
"Subsidi energi Rp144 triliun pada 2010 harus dihapuskan
bertahap," katanya. Dengan begitu, Indonesia punya
anggaran lebih besar untuk membiayai infrastruktur yang
kurang memadai.
Xavier
Salai Martin, Chief Advisor dari World Economic Forum
juga menyebutkan sejumlah syarat yang hampir sama agar
Indonesia masuk jajaran ekonomi bergengsi. Syaratnya
adalah perbaikan infrastruktur fisik, peningkatan mutu
birokrasi, penegakan sistem hukum dan menjaga stabilitas
ekonomimakro.
"Waspadai soal infrastruktur, jika tidak investasi,
Indonesia takkan bisa mencapai pembangunan yang diharapkan”.
Geser
Rusia
Seperti yang dikatakan oleh Kepala Badan Koordinasi
Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan bahwa Indonesia
bukan hanya berpotensi besar masuk kedalam BRIC, tetapi
Indonesia mampu menggeser Rusia. “Bukan Hanya
masuk BRIC, tetapi Indonesia juga bisa menggeser Rusia”,
ujar Gita. Gita menambahkan bahwa selama ini pertumbuhan
ekonomi Rusia hanya bergantung pada satu sampai dua
sektor saja. Selain itu, negara bekas Uni Soviet ini
juga memiliki kondisi politik yang tidak selalu stabil.
Hal
tersebut berbeda dengan Indonesia yang memiliki sumber
pertumbuhan ekonomi yang terdiversifikasi cukup banyak.
Selain itu, Indonesia juga memiliki ekstrapolasi ekonomi
yang sangat baik, ditambah stabilitas ekonomi makro
dan politik yang tetap terjaga. Namun Gita mengingatkan,
untuk bisa menggeser posisi Rusia, Indonesia harus bisa
membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur di Tanah
Air bisa segera diselesaikan. "Itu saja (syaratnya),
yang (sektor) lain sih ikut-ikut saja," jelasnya.
|